News

Bung Karno, John F Kennedy dan Gadis Penari Telanjang : Okezone Nasional

SUATU ketika, Soekarno menerima sebuah majalah Amerika yang memperlihatkan gadis striptis setengah telanjang. Si gadis hanya memakai celana dalam dan berdiri di samping Soekarno yang berpakaian militer lengkap.

Hal itu menggambarkan sebuah kombinasi supaya kelihatan seolah-olah satu foto dari seorang gadis penari telanjang membuka pakaiannya di hadapan Presiden Republik Indonesia. Ini merupakan perbuatan kotor yang dilakukan terhadap seorang kepala Negara.



“Apakah aku harus mencintai Amerika, kalau ia melakukan perbuatan seperti itu terhadap diriku? Aku memperbincangkan muslihat semacam ini dengan Presiden Kennedy yang sangat kuhormati. John F. Kennedy dan aku saling menyukai pergaulan kami satu sama lain,” ujar Bung Karno dalam Buku Penyambung Lidah Rakyat.

Kennedy sangat menggagumi Bung Karno dengan pemikirannya. Bahkan, tak jarang Kennedy mengutip bagian-bagian dari pidato Bung Karno. Kennedy merupakan sosok yang mempunyai cara mendekati seseorang melalui hati. Diakui Bung Karno, bahwa dirinya memiliki banyak kesamaan dengan Kennedy.

Di mata Bung Karno, Kennedy adalah sosok yang ramah dan menunjukkan sebuah persahabatan. Suatu waktu, Bung Karno diajak pernah diajak ke kamar tidurnya untuk berbincang.

“Tuan Kennedy, apakah Tuan tidak menyadari, bahwa sementara Tuan sendiri memadu hubungan persahabatan, seringkali Tuan dapat merusakkan hubungan dengan negara-negara lain dengan membiarkan ejekan, serangan makian dan mengizinkan kritik-kritik secara tetap terhadap pemimpin mereka dalam pers Tuan?”


Kennedy mengamini apa yang diungkapkan Bung Karno. Bahkan, dirinya pun mengakui mendapatkan kesukaran dengan wartawan Amerika. Namun, kemerdekaan pers merupakan satu bagian dari pusaka peninggalan Amerika.

Bung Karno pun mengatakan, ketika Alben Barkley menjadi Wakil Presiden Amerika Serikat, ia mengunjungi Indonesia, dan dirinya berdiri dekatnya di waktu Barkley dicium oleh serombongan anak-anak gadis cantik remaja.

Sekalipun demikian tak satu pun surat kabar Indonesia mau menyiarkannya. Di samping itu, mereka tak berani mengambil risiko untuk menimbulkan kesusahan terhadap seorang negarawan ke seluruh dunia.

Barkley adalah seorang yang gembira dan barangkali tidak peduli bila gambarnya itu dimuat. Akan tetapi, bukanlah itu soalnya. Terpenting, perlunya para pemimpin dunia dilindungi di Indonesia.

Kennedy memiliki persasaan yang sama dengan Bung Karno mengenai soal ini dan berkata kepadanya dengan penuh kepercayaan. “Tuan memang benar sekali, tapi apa yang dapat saya lakukan ? Sedangkan saya dikutuk di negeri saya sendiri,”

Menurut Bung Karno, itu terjadi karena sistem di Amerika. Kalau Kennedy dikutuk di ‘rumah’ sendiri, pihaknya tidak dapat berbuat apa-apa. Namun, kata Bung Karno, dirinya tidak perlu juga menderita penghinaan seperti itu di Amerika, di mana Kepala Negaranya sendiri harus menderita sedemikian.

“Majalah Tuan,”Time” dan “Life” terutama sangat kurang ajar terhadap saya. Coba pikir, “Time” menulis, Soekarno tidak bisa melihat rok wanita tanpa bernafsu”.

Selalu mereka menulis yang jelek-jelek. Tidak pernah hal-hal yang baik yang telah Bung Karno kerjakan. “Sekalipun Presiden Kennedy dan aku telah mengadakan pertemuan pendapat, persetujuan dalam lingkungan kecil ini tidak pernah tersebar dalam pers Amerika Serikat. 

Masih saja, hari demi hari, mereka menggambarkannya sebagai pengejar cinta. Meski, diakui Bung Karno kalau dirinya sosok yang mencintai wanita.

Namun, bukan berarti dirinya seperti yang gambarkan media Amerika. Di Tokyo, misalnya saat dia pergi dengan kawan-kawan ke suatu Rumah Geisha. Tiada sesuatu yang melanggar susila mengenai Rumah Geisha itu. Orang sekadar duduk, makan-makan, bercakap-cakap dan mendengarkan musik. Hanya itu. Namun, majalah barat menggembor-gemborkan Bung Karno Le Grand Seducteur.

Bagi Bung Karno, tanpa hiburan-hiburan kecil ini dirinya akan mati. Dirinya sangat mencintai kehidupan. Ketika ada orang asing yang berkunjung ke Istana selalu bilang bahwa dirinya menyajikan suatu istana yang menyenangkan.

“Ajudan-ajudanku mempunyai wajah-wajah yang senjum. Aku berkelakar dengan mereka, menyanyi dengan mereka. Bila aku tidak memperoleh kegembiraan, nyanyian dan sedikit hiburan kadang-kadang, aku akan dibinasakan oleh kehidupan ini.”

Kisah ini dilansir dari Buku Penyambung Lidah Rakyat, karya Cindy Adams

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published.

close