News

Industri Musik Indonesia Siapkan Strategi Baru Memasuki Era Hibrid 2022

Suara.com – Selama dua tahun masa pandemi, terdapat beberapa indikator positif di industri musik, antara lain meningkatnya jumlah pemakai aplikasi streaming musik, semakin banyak musisi yang menyadari pentingnya platform musik digital dan distribusi, dan produktivitas para musisi yang justru makin meningkat selama masa pandemi karena keterbatasan melakukan konser musik luring.

Memasuki tahun 2022, para pelaku di industri musik yakin bahwa kita akan memasuki era hibrid. Dan semua sepakat, kita semua harus jeli mengatur strategi menghadapi situasi yang masih belum menentu.

Untuk itulah, Resso, aplikasi streaming musik sosial pertama di Indonesia, menyelenggarakan ‘Breakfast with Resso (BwR)’ baru-baru ini. Forum diskusi ini mengangkat topik “Industri Musik Indonesia 2022: Ayo Hadapi Tantangan dan Raih Peluang-peluang di Era Hibrida” dan dihadiri oleh perwakilan dari Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta para pemangku kepentingan industri musik.

Diselenggarakan untuk pertama kalinya dalam format hibrida, BwR dihadiri oleh Dr. Mohammad Amin M.Sn., M.A., Direktur Musik, Film dan Animasi, Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI; Dahlia Wijaya, Country Director Believe Indonesia; Adryanto Pratono, CEO Juni Records; Artis Oslo Ibrahim; Dino Hamid, Ketua Asosiasi Promotor Musik Indonesia dan CEO Berlian Ent.; Christian Bong, CEO dan Founder Indomusik Group; Dwi A Setianingsih, Jurnalis Senior; Matthew Tanaya, Artists Promotion Lead Resso Indonesia; dan Gembira Agam, Artist and Label Promotion Resso Indonesia. Pemerhati musik sekaligus penulis Wendi Putranto, memimpin dan memoderasi diskusi.

Mengawali diskusi, Dr. Mohammad Amin M.Sn, M.A., menunjukkan data dari Anugrah Musik Indonesia (AMI) yang berlangsung bulan lalu, dimana AMI Awards 2021 menerima 4.645 karya dibandingkan dengan 2.971 karya di 2020, dan 1.973 karya pada 2019.

Ia juga menyebutkan bahwa pada bulan Juni 2020, Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki nilai pasar streaming musik terbesar di dunia, menduduki posisi ke-18.

“Hal ini menunjukkan bahwa, terlepas dari dampak negatif pada industri musik, pandemi tidak menyetop proses kreatif dalam berkarya, mendistribusikan maupun mengkonsumsi musik. Tantangannya terletak pada bagaimana mengedukasi masyarakat untuk mengadopsi teknologi yang terus berkembang. Pemerintah akan mengupayakan produk hukum untuk melindungi pelaku industri musik yang disesuaikan dengan perkembangan teknologi,” ujar Amin, yang juga menggaris bawahi peran streaming dalam penyelenggaraan event hibrida yang mampu menjangkau audiens di luar area luring.

Penyanyi Oslo Ibrahim membenarkan pendapat Amin dengan mengatakan bahwa penerapan pembatasan sosial justru mendorong dirinya untuk lebih produktif dalam menciptakan lagu.

“Ketika pandemi terus berlanjut, gue pikir, salah kalau tidak melakukan apa-apa. Jadi, gue mulai membuat lagu, dan sekarang gue punya satu album dan dua EP (extended play atau mini album). Next untuk 2022 akan ada EP lagi dan beberapa single terbaru,” katanya.

Semua partisipan juga mengakui bahwa ke depannya, Covid-19 akan menjadi endemi di mana masyarakat harus hidup berdampingan dengannya, lengkap dengan penerapan protokol kesehatan. Namun demikian, para partisipan juga berharap akan lebih banyak event musik luring yang diselenggarakan tahun depan.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published.