News

Nasihat Sabda Palon dan Naya Genggong untuk Raja Majapahit: Datangkan Ahli untuk Atasi Masalah! : Okezone Nasional

JAKARTA – Sabdo Palon dan Naya Genggong adalah tokoh legendaris yang dianggap sebagai pandita dan penasehat Raja Brawijaya V, penguasa terakhir yang beragama Buddha dari kerajaan Majapahit.

Untuk diketahui, Sabdo Palon dan Naya Genggong bukanlah nama asli, tetapi gelar yang diberikan sesuai dengan karakter tugas yang diemban. Dalam Serat Darmo Gandul, Sabda Palon diartikan sebagai kata-kata dari namanya.



Sabdo Palon memiliki dua makna, “sabdo” berarti seseorang yang memberikan masukan atau ajaran, dan “palon” yang berarti pengancing atau pengunci kebenaran yang bergema dalam ruang semesta.

Sementara Naya Genggong memiliki makna “naya” berarti nayaka atau abdi raja dan “genggong” yang bermakna mengulang-ulang suara. Naya Genggong adalah seorang abdi yang berani mengingatkan raja secara berulang-ulang tentang kebenaran.

Disebutkan dalam buku Brawijaya Moksa Detik-Detik Akhir Perjalanan Hidup Prabu Majapahit, saat itu situasi dan kondisi Kerajaan Majapahit mengalami kemerosotan dalam bidang moral karena banyak sekali pejabat kerajaan dan putra pembesar Majapahit diketahui telah banyak mengumbar hawa nafsunya.

Semuanya termenung dalam kesedihan dan keprihatinan. Mereka berdua nampak memeras otak bagaimana cara menyelesaikan masalah yang dihadapi Majapahit.


Prabu Brawijaya V mengumpulkan mereka dalam suatu pasewakan agung di Majapahit. “Kakang Sabda Palon dan Naya Genggong, bagaimana kalau menurut pandangan kalian untuk menyelesaikan masalah ini?” tanya Sang Baginda Raja.

Sabda Palon memberikan sarannya, “Gusti Prabu, kalau berkenaan dengan kemerosotan atau kebejadan moral, maka harus didatangkan ahlinya, yaitu para bikhu, pandhita, brahmana atau resi agar menggembleng mereka. Soal mekanismenya, hal itu kami serahkan Gusti Prabu.”

“Berkenaan dengan situasi Majapahit sekarang ini memang memerlukan pemikiran dan tindakan nyata yang serius,” sambung Naya Genggong.

Semua bikhu, pandhita, dan brahmana ini diharapkan agar mendidik para nayaka praja serta putra pejabat agar menghentikan tindakannya.

Tak hanya masalah moral, Kerajaan Majapahit juga diterpa soal isu ekonomi yaitu datangnya masa paceklik lebih awal dari perkiraan sebelumnya.

” Menyangkut paceklik karena kemarau panjang pun juga harus mendatangkan ahli pertanian bagaimana membuat sistem pengairan yang bagus, sehingga persawahan dapat ditanami lagi oleh para petani, ” ujar Sabda Palon.

“Baiklah, aku dapat menerima saran dan pandanganmu, Kakang Sabda Palon dan Naya Genggong!” kata Prabu Brawijaya V.

Prabu Brawijaya V langsung memerintahkan Tumenggung Supa untuk mendatangkan para bikhu, pandhita, brahmana atau resi supaya memberikan pencerahan kepada para nayaka praja dan para putra pejabat Majapahit.

Tak lupa juga Tumenggung Supa mencari ahli pertanian andal agar mengantisipasi masalah paceklik yang menimpa Majapahit.

Sumber: Buku Brawijaya Moksa Detik-Detik Akhir Perjalanan Hidup Prabu Majapahit

Penulis: Alvin Agung Sanjaya

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published.

close