Pemilik SMA SPI Dituntut 15 Tahun Penjara, Kuasa Hukum Siapkan 1.000 Halaman Nota Pembelaan : Okezone News

MALANG – Persidangan kekerasan seksual yang menunut pemilik sekolah Selamat Pagi Indonesia (SPI) kembali digelar. Di persidangan ke-22 yang diselenggarakan pada Rabu (3/8/2022) ini diagendakan pembacaan pembelaan dari pihak terdakwa melalui kuasa hukumnya.

Sidang dilakukan mulai pukul 09.30 WIB di ruang sidang Cakra Pengadilan Negeri (PN) Malang, secara tertutup. Terdakwa Julianto Eka Putra pun tak tampak karena menjalani persidangan secara online sesuai Peraturan Mahkamah Agung imbas adanya Covid-19.




Dito Sitompul, kuasa hukum JE menyebutkan, pihaknya telah menyiapkan nota pembelaan terhadap kliennya di persidangan kendati hanya diberikan waktu satu minggu pasca diberikan tuntutan oleh jaksa penuntut umum (JPU). Pihaknya pun telah menyiapkan nota pembelaan setebal 300 – 500 halaman dan jika ditambah dengan lampiran maka ada setidaknya 1.000 halaman lembar pledoi.

“Kami sudah siap membacakan nota pembelaan kami. Walaupun kami hanya diberikan waktu 1 minggu. Kami tetap mengusahakan yang terbaik bagi klien kami. Karena kami percaya sedari awal klien kami tidak bersalah,” ucap Dito Sitompul sebelum persidangan dimulai di Pengadilan Negeri (PN) Malang, pada Rabu pagi (3/8/2022).

Dito juga mengklaim membawa bukti yang menguatkan bahwa kliennya Julianto Eka Putra tidak bersalah. Salah satu bukti adalah bukti korban dan kekasihnya yang diklaim ada di sebuah hotel selama 15 hari, pada rentang waktu dua bulan sebelum dilakukan visum.

“Dalam surat tuntutan kemarin dibilang, luka robek diakibatkan oleh terdakwa. Kan menjadi pertanyaan. Kami yakin bahwa terdakwa tidak bersalah seperti yang didakwakan berdasarkan bukti-bukti yang ada,” tuturnya.

Sementara itu Ketua tim kuasa hukum JE Hotma Sitompul mengungkapkan, pihaknya membawa sejumlah bukti – bukti yang bakal diperlihatkan ke majelis hakim dan JPU. Sejumlah bukti seperti video, rekaman percakapan, foto-foto, hingga transkip percakapan bakal menjadi acuan pembelaan yang dilakukan pihaknya.

“Di sini kita datang untuk mencari keadilan, berfadarkan bukti-bukti yang ada. Sekali lagi saya ungkapkan bukan untuk cari menang-menangan,” kata Hotma.

“Semua ada, video, rekaman, transkip. Kita semua berdasarkan bukti bukan asumsi. Kemarin kan semua ngomongnya kalau yang brewok itu asumsi aja. Kata-katanya ada bukti ciuman sampai sekarang nggak ada fotonya,” tambahnya.

Dirinya juga menyayangkan adanya oknum yang berbicara tidak pada bukti-bukti yang ada. Bahkan Hotma terang – terangan apa yang disampaikan Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait hanya berdasarkan asumsi – asumsi dan bukan dari fakta yang dijumpai di lapangan.

“Jadi kita sebut yang namanya Arist Merdeka Sirait itu predator hukum, artinya apa memperkosa hukum dia tidak bicara secara hukum, cukup deh,” tegasnya.

Sebelumnya diberitakan, Julianto Eka Putra menjalani sidang tuntutan oleh JPU pada Rabu (27/7/2022). Persidangan berlangsung secara tertutup, sementara terdakwa Julianto berada di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas I A Malang menjalani persidangan secara online sesuai Peraturan Mahkamah Agung (Perma) Nomor 4 tahun 2020.

Di persidangan tersebut sendiri berlangsung kurang lebih empat jam sejak pukul 09.15 WIB hingga pukul 12.45 WIB, Julianto dituntut 15 tahun penjara. Selama persidangan sejumlah aparat kepolisian menjaga ketat kantor PN Malang.

Selain tuntutan penjara, pemilik sekolah SMA SPI Kota Batu ini juga dituntut membayar denda Rp 300 juta subsider kurungan 6 bulan penjara. Julianto juga dituntut membayar restitusi atau ganti rugi kepada korban sebesar Rp44.744.623.

Source link

Pemilik SMA SPI Dituntut 15 Tahun Penjara, Kuasa Hukum Siapkan 1.000 Halaman Nota Pembelaan : Okezone News

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Scroll to top